About these ads
 

Serat Rengganis part 1: Asal-Usul Dewi Rengganis & Keberadaan Situs Arkeologi Di Sumbermalang


Hmm…

Belajar sastra dulu, sambil mencari sejarah daerah asal yaitu sejarah Dewi Rengganis dan Sumbermalang sendiri.

Sebenarnya sudah lama dapat Serat Rengganis, namun baru beberapa hari ini dipelajari secara intens. Serat ini menggunakan bahasa jawa yang masih bisa dimengerti oleh saya.

Perlu diketahui, bahwa walalupun berada di Pulau Jawa, namun Situbondo (khususnya Sumbermalang) berbahasa Madura.

Menggali Serat Rengganis akan dibuat dalam beberapa artikel. dan tiap artikel membahas beberapa paragraf saja.

Serat Rengganis iku sawijining karya sastra ing basa Jawa Anyar. Karya sastra iki asalé saka tradhisi Islam-Jawa lan kalebu kelompok tèks Serat Ménaklan bisa digolongaké Sastra Jawa Pasisir. Carita iki naté populèr banget, ora mung ing Tanah Jawananging uga ing saubengé yaiku Tatar Sundha, Madura, Bali, lan Lombok.

(terjemahan bebas) Serat Rengganis adalah salah satu karya sastra dalam Bahasa Jawa Baru. Karya satra ini berasal dari tradisi Islam-Jawa dan masuk dalam kelompok teks ”Menak” dan bisa digolongkan dalam Sastra Jawa Pesisir. Cerita ini sangat populer, bukan hanya di tanah Jawa, namun juga di daerah sekitarnya, yaitu Tanah Sunda, Madura, Bali dan Lombok.

Rengganis iku arané sawijining putri sing ayu banget lan sawisé pacoban akèh wusanané dadi garwané putrané Amir Ambyah (utawa Amir Hamzah) sing diarani Iman Sumantri. Iman Sumantri uga diarani mawa dasanama Repatmaja, Pangéran Kélan utawa Bangjaran Sari.

Rengganis itu adalah salah satu putri yang sangat cantik, setelah mengalami banyak cobaan kemudian menjadi istri dari putra Amir Ambyah (atau Amir Hamzah) yang disebut Iman Sumantri. Dia juga dikenal dengan Repatmaja, Pangeran Kelan atau Bangjaran Sari.

Ana sawijining pandhita tapa anèng Gunung Argapura; sang pandhita wau kala mbiyèn dumeneng nata ing nagara Jaminèran. Bareng kagungan putra-putri siji, kaparingan nama Dèwi Rengganis; ora suwé garwané séda, sang prabu banjur tilar kaprabon.

Tersebutlah seorang Pendeta di Pertapaan Gunung Argopuro; Sang Pendata itu dulunya adalah pemimpin dari negara Jamineran. Mempunyai anak satu, yang diberi nama Dewi Rengganis; tak lama kemudian sang istri meninggal, dan Sang Prabu mengundurkan diri.

Dèwi Rengganis diopèni ramané dhéwé anèng patapan. Labet putraning pandhita, sang dèwi cilik mula wis seneng tapa; sing didahar namung sarana nesep maduning kembang-kembang, amula ya sekti banget, bisa mabur.

Dewi Rengganis dirawat oleh ayahnya sendiri di tempat pertapaan. Memang putri seorang pendeta, sang dewi pun suka bertapa/tirakat; yang dikonsumsi hanya sari bunga, makanya sangat sakti, bisa terbang.

———————————————————————————————–

Itu adalah terjemahan bebas dari beberapa paragraf awal Serat Rengganis. Maaf, berhubung bukan ahli bahasa Jawa, ya ala kadarnya saja. Semampu saya. Mungkin pembaca ada yang lebih paham, saya dengan senang hati akan merubah terjemahan tersebut.

Back to topic….

Paragraf ini, menceritakan asal-usul dari Dewi Rengganis. Siapa dia? dari mana? dan keturunan siapa? semua dijelaskan di paragraf-paragraf awal ini. Menariknya adalah Dewi Rengganis seorang putri dari negara Jamiran. Dimanakah negara ini?? Saya belum pernah mendengar negara ini. Mungkin sebuah kerajaan kecil di masa-masa kejatuhan Majapahit. Lasannya, karena sang Ayah memeluk agama bukan Islam (kemungkinan besar Hindu).

Berhubung, saya berasal dari lereng Argopuro sebelah Timur, maka khayalanku melayang ke daerah yang bernama Jambaran (sebuah wilayah di Kecamatan Sumbermalang). Jamiran berubah menjadi Jambaran. Seperti berubahnya daerah Panawijyan menjadi Polowijen di daerah Malang. Apalagi tidak jauh dari daerah tersebut ditemukan benda-benda bersejarah, seperti Bheto Andhe (batu Tangga), Pandhusa (sarkofagus) dan beberapa kali ditemukan (walaupun bukan di Jambaran) perhiasan pakaian kerajaan. Tapi, perlu pembuktian lebih lanjut. Kan ini hanya khayalan kang ulid, hehehehe…

Dimanakah letak negeri Jamineran??? apakah ini hanya khayalan belaka atau benar-benar ada. Soalnya, pertapaan di gunung argopuro benar-benar ada. Dewi Renganis pun diyakini keberadaannya oleh penduduk sekitar.
Menariknya lagi, mengapa serat ini berbahasa Jawa?? padahal saat ini penduduk sekitar gunung argopuro berbahasa Madura. dan khususnya di Sumbermalang, para penduduk meyakini bahwa yg membabat alas (mendirikan) Sumbermalang dan sekitarnya adalah Buju’ Usa, dkk yang merupakan pengelana dari Madura.
Ada missing link di sini? Jika menilik bekas pertapaan Dewi Rengganis maka dapat disimpulkan bahwa peradaban Argopuro (khususnya sumbermalang) jauh sebelum kedatangan para pengelana dari madura. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya ‘Pandhusa’ (sarkofagus) dan benda-benda arkeologi lainnya di sekitar Sumbermalang. Tapi mengapa yg dikatakan pembabat alas Sumbermalang adalah Buju’ Usa, dkk??? Lantas masih adakah keturunan asli dari Jaman Dewi Rengganis??

Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, perlu penelitian lebih lanjut. Sedikit sekali penelitian di daerah Argopuro (setahu saya hanya satu penelitian, itupun fokus kepada situs pertapaan Dewi rengganis yang menyerupai punden berundak).

Wah, kayaknya perlu turun ke lapangan lagi nih. Langkah awal adalah meng-inventarisir situs-situs yang ada di Sumbermalang. Smangattttt…!!!!

About these ads

10 Balasan ke Serat Rengganis part 1: Asal-Usul Dewi Rengganis & Keberadaan Situs Arkeologi Di Sumbermalang

  1. potretbikers mengatakan:

    Mantabbbbbb, lanjutkan !!! Tak dukung, depan – belakang – samping – atas – bawah, hehehehe

    Like this

  2. leuchtkafer mengatakan:

    sangat tertarik kang,,, ada banyak kisahnya dewi rengganis, salah satunya di setu patengan daerah ciwidey bandung.. disitu kisahnya dewi rengganis dan ki santang bertemu lagi setelah sekian lama, disebuah batu besar (batu cinta).. apakah nama dewi rengganis ada banyak atau ini orang yang sama?

    Like this

  3. kaktus genius mengatakan:

    di lombok juga ada gunung argopuro…ada juga kisah dewi rengganis..
    dan aku sdng mempelajarinya…mampir ya di blog-ku..:)

    Like this

  4. Firdausiah Adinta mengatakan:

    Mas, ini Firda, hehe
    Kalau boleh tahu, dimana mas menemukan Serat Rengganis, dan sekarang apakah seratnya masih ada? Saya penasaran ingin baca dan neliti, hehe. Terima kasih :)

    Like this

  5. Denu mengatakan:

    Di daerah Pemalang itu ada yang namanya Dewi Rengganis,
    klo setahu saya itu dia sebangsa jin gtu

    Like this

  6. Dari SUYITNO,M.Ag. TABIB AWAN PUTIH.COM: Serat Rengganis yang anda kutip di atas tampaknya bukan merupakan ARTEFAK yang dapat dijadikan sumber sejarah karena tampaknya ditulis pada masa (mungkin) 1980-an. Ada kata serapan yang masuk dalam serat itu yaitu kata POPULER. Kata POPULER berasal dari bahasa Inggris. Penyerapan kata itu tidak mungkin terjadi pada tahun 1920-an karena penyerapan kata biasanya terjadi bersamaan dengan masuknya bahasa itu atau berinteraksinya pengguna bahasa itu dengan pihak penyerap. Pada masa penjajahan Belanda hampir tidak ada kosa kata bahasa inggris yang terserap ke dalam bahasa Indonesia apalagi Jawa. .Karena terjadi interaksi antara jawa dengan cina, ada kosa kata terserap, misalnya bak so. Karena masuknya Islam, banyak kosa kata Arab yang terserap ke dalam bahasa Jawa maupun Indonesia.
    Masuknya kata serapan POPULER jelas terkait dengan banyaknya pemakaian bahasa Inggris atau mungkin ada keterkaitan dengan kurikulum sekolah. Biasanya, orang menyerap kata, karena terbiasa menggunakan bahasa itu atau agar tampak keren dengan memakai bahasa itu. Perasaan itu atau pemakaian bahasa Inggris jarang/hampir tidak dipakai pada masa Pemerintahan Belanda keciali hanya sangat sedikit.
    Untuk membuktikan TESIS saya tersebut, cobalah membaca karya saatera berbahasa Jawa yang terbit pada tahun 1920-an misalnya, SERAT WIRID HIDAJAT DJATI karangan RONGGOWARSITO. Diterangkan dalam KATA PENGANTAR-nya bahwa tulisan aslinya dalam tulisan Jawa dan bahasa jawa kuno, ditulis ulang dalam Bahasa Jawa Modern dengan tulisan latin/gedrik. Dari buku itu tampak jelas perbedaan LANGGAM bahasa jawa saat itu dan sekarang.
    Sedangkan serat Rengganis yang anda kutip berisi LANGGAM BAHASA JAWA tahun 2000-an. Tampaknya, orang yang menulis itu, orang yang tidak berbiasa berbahasa jawa tetapi pernah belajar Bahasa Jawa dan cukup cerdas. Coba lihatlah lagi, gaya bahasanya seperti gaya bahasa MAJALAH JAYABAYA yang berbahasa Jawa.
    Mungkin penulisnya mendapatkan cerita tentang Rengganis dari para leluhurnya. Mungkin cerita itu benar atau mungkin hanya semacam legenda saja.
    Walaupun sendainya hanya legenda, lumayan untuk menambah kekayaan budaya Nusantara.

    Like this

    • kang_ulid mengatakan:

      Kata populer yg dimaksud kata apa ya? Dan memang cerita rengganis memiliki banyak versi, di lereng gunung argopuro sendiri, tidak ada (belum ditemukan) tulisan ttg dewi rengganis, yg ada berupa cerita lisan… o iya, anda pernah baca babad besuki?? Babad besuki menceritakan daerah besuki (daerah di bawah kaki gunung argopuro) bahasa yg digunakan bisa dikatakan bahasa jawa seperti yg digunakan dlm pewayangan. Mengapa begitu? Karena daerah tersebut telah mengalami akulturasi dg budaya madura.
      Dan saya pun sbg putra daerah saat ini tdk paham sama sekali dg bahasa jawa.
      Terima kasih atas infonya

      Like this

Silahkan Komen

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 3.021 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: